Loading...

Friday, April 17, 2009

Di Sarang Pejuang


Akhirnya saya bercanda dengan mujahidin-mujahidin itu. Pengalaman yang tak mungkin lupa seumur hidup. Di sarang pejuang Hamas, antara tegang dan pasrah. Kisah ini mele
ngkapi misi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina.


Suatu malam, mereka mengajak patroli ke dekat perbatasan Israel, Erez. Lebih kurang dua kilo meter dari Israel. Para pejuang ini, menenteng AK 47, roket anti tank buatan Rusia, dan ranjau penghancur tank.
Mereka menyelip di antara dinding-dinding puing bangunan yang hancur oleh bom Israel. Juga mengendap di bawah rerimbunan pohon jeruk dan zaitun, pukul 23.00 malam itu.

Di sebuah tempat pe
ristirahatan, seseorang dari mereka membuka bekal makanan. Dikeluarkanlah roti, dan satu kaleng minuman ringan "Coca Cola". Kami bercengkerama di bawah rerimbunan pohon jeruk. Saya bertkata, "Coca Cola di Indonesia diboikot! Ini Israel punya".

"Subhanallah", jawab mereka serentak. "Kami tidak punya pilihan lain", kata salah satu mujahidin. Dia mera
pat, merangkul pundak saya. Dengan bahasa Inggris yang dipaksakan dia berucap, "I Love you Indonesi". Seorang temannya kemudian menyela, "Dakwad!" sembari menunjuk dadanya. Dia bilang doakan kami. Saya kaget, "Anda yang harus doakan saya, karena kalian mujahidin!".

Dia maksa bah
wa dialah yang perlu doa. Mereka seperti sadar, jika pertemuan malam itu bisa jadi perjumpaan terakhirnya dengan orang asing. Mereka tidak tahu, apakah esok masih dapat menatap matahri, atau dijemput syahid.

Pada hari yang lain, saya dijamu sebuah keluarga yang hidupnya sederhana. Disuguhkanlah buah jeruk dan
apel yang mulai layu. Saya bertanya, "Dari mana jeruk ini?". "Dari Israel dan Mesir. Tapi Israel selalu menjual buah yang mulai busuk ke kami", jawab tuan rumah.

Di rumah Abu Anas, seorang warga Gaza yan
g berbaik hati memberi tumpangan menginap, saya mendapati listrik hidup hanya 3 jam. saya bertanya, "Darimana listrik ini?". Abu Anas menjelaskan, "Sepertiga dari Israel dan sepertiga dari mesir".

Di Gaza, saya bertransaksi menggunakan mata uang Israel, Shekel. Juga berkomunikasi dengan, Jawal - jaringan selul
aer milik Israel.

Saya dapat merasakan, betapa berat sebagai manusia terjajah. Seperti diberi hidup, tapi disakiti agar mati perlahan. Namun, saya juga merasakan, sebuah perjuangan tidak mengenal akhir. Membebaskan diri dari penjajahan dan kezaliman sesama umat manusia.

Read More......

Bantuan DD Langsung Tembus Jalur Gaza


REPUBLIKA – Bantuan kemanusiaan masyarakat Indonesia melalui Dompet Dhuafa Republika (DD), sudah tersalur seluruhnya langsung ke jantung Gaza. Bantuan tahap dua senilai Rp 1 milyar yang dibawa tim kedua Ahmad Shonhaji dan Imam Rulyawan, telah didistribusikan dalam bentuk logistik makanan dan santunan korban perang di Rafah Gaza dan Jabalia.


Sebelum keberangkatan tim kedua ini, DD telah mendirikan Pabrik Roti bekerjasama dengan The Islamic Society Jabalia Nazla, di Gaza Utara. Misi pertama yang berhasil menembus Jalur Gaza ini dilakukan oleh Sunaryo Adhiatmoko dan Fachrul Ratzi wartawan Republika. Adapun total bantuan masyarakat Indonesia melalui DD, yang sudah diterima langsung masyarakat Gaza senilai Rp 2,5 milyar.

“Kami tidak dapat masuk Gaza. Tapi jaringan kemanusiaan tim DD pertama yang sudah dibentuk tim DD sebelumnya, berhasil memba
wa sisa bantuan Rp 1 milyar yang tertahan di Rafah”, tandas Ahmad Shonhaji.

Diceritakan Shonhaji, sejak penutupan pintu perbatasan Rafah, Mesir, 5 Februari lalu, tidak ada lembaga kemanusiaan
dapat masuk ke Gaza. Meskipun berbagai kelengkapan administrasi terpenuhi, pemerintah mesir tetap tidak mengijinkan masuk ke Gaza. Akhirnya, selama dua pekan tim hanya bertahan di El Arish dan Rafah Mesir.

Setelah menunggu tanpa kepastian, akhirnya DD memanggil perwakilan dari Islamic Society cabang Rafah Gaza, untuk mengambil langsung bantuan ke El Arish, Mesir.
“Kami menunggu tiga h
ari di El Arish, untuk memastikan bantuan sampai. Mereka mengirimkan bukti dokumentasi distribusi bantuan melalui email”, kata Shonhaji.

Bantuan dalam paket sembako itu, dibawa oleh satu tronton truk yang didistribusikan langsung ke pengungsian. Relawan lokal DD yang diwakili Abu Musaf mengawasi langsung distribusi bantuan ini. Sisanya diberikan secara tunai ke 700 keluarga korban perang. DD juga membantu Madrasah Darul Fadillah di Rafah Gaza, yang hancur oleh 14 roket Israel, pada hari terakhir serangan sebelum
genjatan senjata.

Tentang ketersediaan suplai logistik di dalam Gaza, seperti dijelaskan Sunaryo Adhiatmoko, tim DD pertama yang masuk Gaza, pihaknya sama sekali tidak kesulitan memperolehnya di dalam Gaza. Karena, mitra lokal sangat paham bagaimana cara mendatangkan logistik langsung ke Gaza.


“Blokade panjang yang mengisol
asi mereka membuat warga Gaza kreatif untuk bertahan hidup. Mereka hanya memerlukan uang, nanti untuk membeli barang, mereka tahu bagaimana mendatangkannya. Itu yang kami alami di Gaza”, tandas Sunaryo yang sembilan hari berada di Gaza.

Ada tiga mitra lembaga kemanusiaan DD di Gaza yang meliputi Rafah, Gaza City, dan Jabalia. Diantaranya The Islamic Society Palestine –
Jabalia City yang dipimpin Esam M Juda (Abu Ahmed). Lembaga ini mitra pelaksana program pabrik roti DD di Gaza. azmiah rusydina.

Read More......

Indonesia Builds Bread Factory in Gaza

VIVAnews - A humanitarian team from Indonesia is setting up a bread factory in Gaza, Palestine, aimed at helping Gaza people who lack food due to the ongoing conflict between Israel and Hamas.



Coordinator of Dompet Dhuafa Humanitarian Team, Sunaryo Adhiatmoko, stated that the bakery development requires Rp 1 billion (US$ 85,000).

His team helps provide the fund for developing the factory using relief fund that Indonesians donate to 'Dompet Dhuafa'.

"The financing is agreed after
the situation is mapped and receiving inputs from the public, ulamas and important figures. One of them suggested that we build a bread factory because it is urgent," said Adhiatmoko through telephone from Jabaliya, North Gaza, on Tuesday, Feb 3.

Adhiatmoko said that Israeli aggression has further degraded the standard of living of disadvantaged people. The Israeli attacks have also destroyed a bread factory in Gaza, an important source of food there.

'Dompet Dhuafa' is teaming up with Islamic Society based in Jabaliya Nazla City, a local organization that will implement the program.

The agreement was signed today. "The bread factory should be completed and fully operational in one month," said Adhiatmoko.

Read More......

Menembus Jalur Gaza


Saya berada di Jalur Gaza selama sembilan hari. Berikut catatan saya pada hari ketujuh. Ini hari ketujuh, saya berbaur dengan warga korban agresi Israel di Gaza, (2 Februari 2009). Satu hari saya di Rafah, enam hari sampai sekarang saya bertahan di Jabalia Gaza Utara. Saya melihat Gaza masih utuh, yakni semangat juang rakyat dan cara bertahannya. Gaza masih kukuh, meski blokade Israel makin menggila.


Meski spirit warga Gaza terus membara, secara fisik Gaza porak poranda. Permukiman penduduk, sekolah, masjid
, dan pusat pemerintahan hancur total. Kerusakan terhebat dialami di Rafah, Khanyounis, Bayt Lahia, Bayt Hanun, dan Jabalia. Tetapi roda pemerintahan berderak tak terbendung. Pemerintahan resmi Hamas, tetap menjalankan perannya dengan baik. Tanpa kantor, apara kepolisian dan keamanan tetap beroperasi. Di Rafah misalnya, meski kantor polisi dihancurkan rudal dan bom Israel, mereka tetap berkantor di jalanan dengan absensi selembar kertas. Bahkan mereka sempat menangkap lima orang pengedar narkotika dari Mesir dan Israel.

Gaza City, ibukota Gaza, oase lain di tengah reruntuhan bangunan dan gedung di Gaza. Pusat kota Gaza ini masih utuh. Gedung-gedung yang punya konstruksi bangunan terkokoh di Arab – mungkin – masih angkuh menatap lepas laut Mediterania. Bank dan fasilitas publik lainnya masih berjalan baik. Kemacetan lalulintas juga pandangan hari-hari, seakan mengatakan "Kami masih utuh wahai Israel!".

Biaya hidup di Gaza ting
gi. Nilai $ US 1 sama dengan 3,8 Shekel – mata uang Israel. Transaksi hari-hari rakyat Palestina memakai mata uang Israel. Hotel dengan tarif terendah mencapai $ US 100. Pasca perang, biaya hidup di Gaza naik lebih dari 300 persen.

Setelah tanggal 5 Februari nanti, pintu perbatasan Rafah melalui mesir akan ditutup. Saya dan orang asing lainnya, diminta Kementerian Luar Negeri Mesir, untuk keluar Gaza sebelum tanggal 5.

Ini seperti mimpi buruk. Selanjutnya, perbatasan yang akan dibuka melalui Israel di Karem Abu Salom dan El Auda. Saya membayangkan, jika pintu masuk Gaza melalui Israel, sama halnya dengan mengisolasi total warga Gaza dari dunia luar. Hati saya terus bertanya, mungkinkah suplai kebutuhan hidup melalui terowongan di Rafah mampu menghidupi 2,5 juta lebih penduduk Gaza? Pun, juga heran, bagaiama mungkin pasca gempuran yang demikian hebat, semua jenis kendaraan di Gaza masih beroperasi secara baik. Darimana supali bahan bakarnya? Makin memahami kehidupan Gaza rasanya rumit dan tak masuk akal.

Rasanya adil, jika akhirnya Hamas memplokamirkan kemenangannya. Karena Gaza bisa berdenyut lebih cepa
t dan makin kuat. Bahkan Hamas juga masih mampu melempar roket ke Israel, tiap kali Israel memancing keruh dengan melempar rudalnya ke Rafah, Khanyounis, dan Jabalia. Dalam catatan saya, Hamas hampir tak pernah melempar roket lebih dulu. Biasanya, jika Israel melempar rudal lebih dulu, Hamas baru membalasnya dengan dua sampai tiga roket. Mereka juga ingin menjelaskan, bahwa Hamas masih kokoh sebagai kekuatan militer di Gaza.

Di Gaza, saya berpetualang menjumpai para korban agresi Israel. Saya merekam cukup baik apa suara mereka. Dari anak-anak sam
pai orang tua. Dalam catatan saya, delapan dari sepuluh anak laki-laki di Gaza bercita-cita jadi anggota Brigadir Al-Qosam. Sisanya ingin jadi guru dan pekerja sosial. Sedangkan tujuh dari sepuluh anak perempuan di gaza, ingin jadi dokter. Mereka ingin mengobati para mujahidin yang terluka, jika Israel menyerang tanah mereka.

Dari setiap anak yang saya ajak berbincang, mereka punya suara kejujuran yang tulus tentang perdamaian. "Kami mencintai perdamaian dengan siapapun. Tetapi jika tanah kami dijajah dan orang tua kami dibunuh, kami akan melawan dengan maupun tanpa Hamas", kata Fatimah atlas (13), di reruntuhan puing bekas rumahnya, Bayt Lahia. Murid kelas dua Madrasah itu, ayahnya lumpuh oleh senjata Israel. Dia terkurung tujuh hari di sekolahnya, saat Israel menyerang. Ada 10 temannya yang syahid di sekolah, saat itu terkena ledakan bom.

Untuk menghemat biaya hidup, saya tinggal di rumah-rumah penduduk. Mereka sangat cinta orang Indonesia. Di sepanjang jalan saya lewati, setiap mulut berucap, "Ahlan wa sahlan Indonesia!". Di masjid-masjid temapt saya sholat, para jamaah selalu mengerubungi saya. Nafas rasanya sesak, kare
na seringnya dipeluk. Para imam masjid saling berebut ingin menjamu saya dan menginap di rumahnya.

Keluarga di gaza hidup dalam kesehajaan. Tetapi untuk menjamu tamu, mereka rela mengorbankan makanan terbaiknya. Kadang, saya belanja roti di warung pinggir jalan, tapi karena tahu saya ora
ng Indonesia, mereka tidak mau menerima uang saya. Bahkan saya diajak masuk rumah mereka dan dijamu makan. Ingin menolak, tapi postur tubuh mereka yang tinggi, membuat saya tak berdaya mengelak. Lengan saya yang kecil ditarik paksa masuk rumah.

Teman-teman saya di Jakarta tahu, saya tidak doyan roti. Tapi di Gaza dengan lidah dan mulut yang terus berontak, saya paksakan untuk menelan roti itu. Ironisnya, porsi yang mereka suguhkan sama
dengan porsi yang mereka makan. Repot tapi mengharukan.

Tidak hanya merekam kehidupan anak-anak dan keluarga di gaza. Saya juga dijamu Brigadier Al-Qosam, sayap militer Hamas yang kerap membuat Israel kerepotan dan stres. Suatu malam, saya diajak patroli mengunjungi markas dan tempat penjagaan mereka di perbatasan Gaza – Israel di daerah Jabalia. Jarak ke Israel tak kurang dari 1 km.

Mereka menyambut kami ramah. Muka mereka ditutup sarung kepala hitam, hanya tampak mulut dan matanya. Setiap prajurit menenteng senjata AK 47. Beberapa di antaranya memegang roket a
nti tank buatan Rusia. Sebagian roket modifikasi buatan sendiri yang diberi nama Yassin. Menukil nama almarhuh Syeh Ahmad Yassin yang dibunuh Israel.

Satu malam
saya bersama mereka. Jalan kaki memutari perbatasan Jabalia. Bau badan mereka harum, nafas yang mereka keluarkan tiap bercakap juga harum. Tidak saya temui, nafas parjurit al-Qosam bau jengkol. Telapak tangannya kekar dan kuat. Suarnya lembut dan santun. Saya tidak dapat mengenali siapa mereka. Tapi, beberapa di antaranya sepertinya saya tidak asing. Pernah berjumpa pada siang sebelumnya.

Saya mencoba mengingat siapa yang saya salami malam itu. Esok hari saya berjumpa anak-anak muda yang berpakaian rapi di masjid-masjid. Beberapa saya merasakan seperti sebagian dari orang yang saya jumpai semalam. Benar saja, sebagian mereka mengaku. Melihat gelagatnya, sulit menebak jika anak-anak muda yang gagah, rapi, santun, dan kalem ini adalah pejuang Al-Qosam yang garang di medan laga.

Tak lupa, mereka juga mengajak saya ke rumah para mujahidin yang luka. Mereka ada yang terluka di kepala
, hancur tangan, kaki, dan tubuh yang tidak utuh. Ajaibnya, luka-luka mereka cepat sekali pulih. Menurut seorang dokter di Gaza, suhu dingin di Gaza bagian dari sebab kenapa luka-luka itu cepat sembuh. Seorang mujahidin ada yang empat kali terjun ke medan tempur, dan empat kali juga tubuhnya terluka. Tapi tidak ciut, dia ingin menjadi mujahidin sampai syahid menjemput.

Saat ini di Indonesia, banyak foto-foto calon legislatif dan calon presiden. Tapi di Gaza tak kalah banyak foto-foto terpampang di jalan-jalan dan gang-gang. Tapi bukan foto caleg. Foto-foto yang dipampang di Gaza adalah foto-foto para mujahidin yang syahid. Mereka menjadi idola dan bintang bagi masyarakat Palestina umumnya. Mereka para syahid yang dihormati, karena membela tanah Gaza secuil yang ingin direbut Israel.

Di Gaza, saya merasakan hukum al-Quran diamalkan. Ini tercermin dari tingkah laku dan kehidupan masyarakat Gaza. Masjid-masjid penuh tiap sholat lima waktu. Rasanya saya ingin tinggal lama di tanah para mujahidin ini. Tapi, saya harus kembali membawa kabar pada dunia, bahwa tidak ada
teroris di Palestina. Semua warga Gaza mencintai Hamas. Ia, pemerintahan dan kekuatan militer yang syah di Palestina. Hamas memenangi pemilu secara demokratis. Dan hamas dicintai secara total oleh rakyat. Anak-anak di Gaza dan Palestina kini makin membumi, mencintai perlawanan dan selalu mengidolakan para mujahidin yang syahid.

Ini, catatan hari ke-7 saya di Gaza. Sebelum akhirnya saya meninggalkan tanah Mujahidin itu pada 5 Februari 2009, atas permintaan Mesir. Setelah itu, pintu masuk Gaza melalui Rafah ditutup.

Read More......

Penghuni Kota Mati


Mirip permukiman padat dengan arsitektur bangunan megah dan kuat. Di antara rumah-rumah yang rapat itu, ada bangunan-bangunan dengan kubah mirip masjid. Hanya satu pemandangan yang menyisakan tanya, mengapa permukiman yang mirip real estate itu tampak kusam. Belum hilang penasaran, teman saya berbisik, “Itu yang dinamakan Kota Mati”.



Area yang memiliki luas hampir seluas Bukit Sentul itu, ternyata kuburan. Letaknya rapat di sepanjang jalan dari daerah Dawea sampai Benteng Solahuddin. Kemudian bersambung di sepanjang jalan menuju makan Imam Syafi'i, Cairo, Mesir.

Kuburan yang memiliki arsitektur rumah ini, mempunyai ruang bawah tanah. Jika ada jenazah baru, maka pintu masuk bawah tanah tersebut dibuka. Jenazah kemudian dimasukan ke ruang bawah tanah bersama jenazah yang sudah lama. Hanya pengurus pemakaman yang boleh masuk ke dalam. Setelah selesai pemakaman, pintu ditu
tup kembali dengan batu dan sedikit ditimbali tanah. Sekilas, kita tidak akan tahu dimana pintu penyimpanan jenazah berada.

Meski itu area kuburan, ternyata juga ada penghuninya. Seperti keluarga Zaki yang sudah puluhan tahun mendiami kuburan milik seorang keluarga kaya di Cairo. Ia memanfaatkan kuburan yang mirip rumah megah itu sebagai tempat tinggal permanen.

“Kami menempa
ti kuburan ini karena tidak perlu keluar biaya. Kami tinggal membersihkan dan menjadi juru kunci kuburan”, terang Zaki. Tapi jika boleh memilih, Zaki juga tidak ingin tinggal di kuburan. Namun kehidupan dan ekonomi yang sulit memaksa zaki dan jutaan orang lainnya mendiami Kota Mati ini.

Menurut zaki, populasi penghuni kota mati makin meningkat. Mereka datang dari desa desa miskin di Mesir. Da
lam buku turis yang ditulis Malak Yakan, seorang antropologi Mesir, disebutkan lebih dari lima juta orang Mesir tinggal di kuburan ini dan membentuk komunitas sendiri.

“ Ada lima kuburan utama di area ini. Kuburan Arah Utara, Kuburan Bab el Nasr Kuburan, Kuburan Selatan, Ku
buran yang besar, dan Kuburan Bab el Wazir," kata Yakan.
Dalam sejarah kepercayaan Mesir, kuburan adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Tidak hanya khusus untuk orang mati. “Orang Mesir tidak memikirkan bahwa kuburan tempat akhir kehidupan, tetapi kuburan adalah awal dari kehidupan abadi”, kata Yakan.

Pemandangan lain
dari Kota Mati ini, sebagai tempat pembungan sampah. Di dalamnya nuansa kumuh menyengat. Binatang seperti tikus berkeliaran. Kotoran anjing juga di mana-mana. Mereka memanfaatkan apa yang ada di dalam kuburan sebagai alat perabot rumah tangga. Di antara pagar batu nisan, mereka mebentangkan tali untuk mengeringkan pakaian. Sementara kebutuhan akan listrik mengambil dari listrik milik masjid terdekat.

Tapi, jika menatap kota mati dari dari jalan Salah Salem, Kota Mati nampak gagah dan megah. Ia seakan merekam abadi tentang sejarah Mesir yang melegenda dan berabad-abad usianya.

Read More......

Tuesday, October 21, 2008

Malaikat di Surau Kami

Ini cerita tercecer yang dipungut, kemudian ditulis dan dibukukan oleh penerbit REPUBLIKA. Sebagai buku ketiga saya. “Malaikat di Surau Kami”, mengajak Anda hadir lebih dekat di komunitas masyarakat kecil. Mereka orang-orang yang tinggal di kolong jalan tol, tempat pembuangan sampah, bedeng bedeng di lahan kosong tak bertuan, dan sudut sudut permukiman kumuh.



Sorotannya, lebih pada kehidupan surau. Menyinggung sedikit kehidupan sosial masyarakat, dan menyindir naluri kemanusiaan kita. Apakah Allah SWT, menghadirkan malaikat dalam aktivitas ibadah kita, atau justru syetan yang lebih dominan. Secara strata ekonomi dan sosial, kita boleh di atas angin. Tapi urusan keberkahan
, bisa jadi mereka yang sujud di antara tumpukan sampah yang kita buang sembarangan, lebih dipilih Allah.

Di penghujung 2005, Yayasan Al-Azhar mendirikan lembaga amil zakat. Tiga tahun berselang, masyarakat mengenalnya sebagai LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Dalam ranah perzakatan di Indonesia, kelahirannya masih amat hijau. Tapi, sentuhan midas Anwar Sani – Direktur dan pendiri LAZ Al-Azhar – membuat lembaga ini melesat cepat. Kini, dalam pentas pengelolaan zakat di tanah air, lembaga ini bersaing sejajar dengan lembaga sejenis yang tumbuh lebih awal.

Tapi, ia tidak tiba tiba ada. Mulanya, surau rapuh di permukiman pemulung, Bantar Gebang, Bekasi, menorehkan cerita ikhwal lembaga ini berdiri. Kemudian menyusul, surau surau yang lain, di komunitas marginal. Program pertama menandai kelahiran LAZ ini, diberi tajuk, “Benah Rumah Ibadah”.

Melalui lembar Dialog Jumat di harian REPUBLIKA, yang saat itu saya penulisnya, LAZ Al-Azhar Peduli Ummat, melaporkan langsung dari lapangan, cerita tercecer, mushola dan surau surau yang terlantar. Rumah ibadah yang berdiri apa adanya, namun tetap teguh jamaahnya berpegang pada tali iman. Feature itu, menuai respon dari banyak pembaca. Donatur yang terpanggil hatinya, turut menegakkan kembali tiang tiang surau yang nyaris ambruk.


“Fantastis!”, Anwar Sani terpukau. Ia berterima kasih pada pembaca yang telah terlibat, menata kembali surau surau yang ditulis dalam buku ini.

Surau surau itu, nyaris terabai nasibnya. Karena ia terselip di gang gang sempit, sudut kampung, dan tercecer di antara tumpukan sampah komunitas pemulung. Bangunannya berbentuk kubus, sebagian tanpa kubah. Bahan material yang digunakan, mayoritas puing puing bangunan bekas rumah rumah elit. Karpet yang terbentang untuk sajadah, juga limbah sampah bekas permadani yang dibuang di pinggir kali. Seseorang memulungnya, mencuci berkali kali agar baunya lebih segar, kemudian m
embawa pulang untuk karpet surau.

Tidak hanya bentuknya yang perih dipandang, kebanyakan surau ini juga berada di atas tanah illegal. Ini tanah terlarang sebenarnya. Tapi lahan kosong, selalu membetot perhatian orang untuk menempatinya. Di Jakarta yang padat, tak akan selamat jika lahan dibiarkan tidur. Ada saja orang yang tiba tiba berani mendirikan bedeng. Satu mulanya. Putaran waktu, kemudian menjadikan tanah kosong yang diakui milik negara ini, berubah jadi perkampungan.

Seakan, membenarkan hadits Nabi, ‘’Siapa saja yang telah menghidupkan sebidang tanah mati, maka tanah itu adalah miliknya”” (HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud). Umar bin al-Khaththab ra. juga pernah mengatakan, “Orang yang memagari tanah tidak berhak (atas tanah yang dipagarinya) setelah (membiarkannya) selama tiga tahun.”

Mereka kerap disebut sebagai pendatang illegal. Tiap saat akan tergusur, tanpa kompensasi dan ganti rugi. Anehnya, komunitas yang terbentuk itu, dapat membentuk satu lingkungan RT, bahkan RW. Punya KTP, KK, dan rekening listrik. Tapi, inilah Jakarta. Apa yang tidak bisa di sulap, di metropolitan yang makin kumuh dan amburadul ini.

Mengapa, mereka butuh surau surau itu?

”Ini benteng terakhir bagi kami. Hidup makin sulit, kalau iman tidak kuat, pilihannya tinggal dua. Merampok apa bunung diri”, tandas Rohadi. Ia seorang pemulung, asal Indramayu yang numpang di bendeng kolong jembatan tol Pluit.

Kita bisa jadi gemetar, mendengar pengakuan itu. Dengan segala keterbatasan hidup, orang orang kecil mampu bertahan lantaran punya tempat kembali. Mereka bisa meredam nafsu yang mendidih, dengan tafakur di dalam surau. Memahamkan diri, bahwa sejatinya kesulitan kesulitan ini, tangga uji dari Allah SWT, untuk hamba-Nya.

Surau di komunitas marginal, juga punya peran sosial. Ia jadi tempat sekolah, bagi anak anak kurang mampu. Mereka mendaras Al Quran, secara cuma cuma dari sang guru ngaji yang super dhuafa. Wujud, surau yang berantakan bukanlah sebab seorang dhuafa kufur nikmat, enggan sholat, dan tak mengenal Tuhan. Tapi, surau yang dinding dan atapnya sulaman limbah sampah, tempat suci untuk berdilaog dengan Allah SWT.

”Insya Allah, malaikat malaikat Allah lebih betah bersama kami di tempat seperti ini”, terang Mas Picis. Ia mantan preman Senen yang kini jadi seorang dai.
Bila kumpulan feature ini, diberi judul ”Malaikat di Surau Kami”, seperti terinspirasi oleh keyakinan Mas Picis. Seraya menelaah diri akan paradigma rumah ibadah yang kerap tidak tepat.

Orang, kerap berlomba megah megahan bangun Mesjid. Ditingkat tinggi tinggi, dipancangi besi kekar, direkat semen padat, dan dikeramik batu pualam. Kubahnya, ada yang dari emas malah. Mesjid, dibuat tampak agung dan gagah. Tapi, kerap kali jamaahnya sepi. Tak jarang, saat subuh, hanya ada satu satunya orang. Dia yang adzan, iqomah, imam, dan ma’mum. Seorang diri di usia uzur, merangkap semuanya.

Maka, denyut nadi surau surau itu, menyibakkan pelajaran lain dari makna rumah ibadah. Ia tak sekadar dibangun, tapi kita punya kewajiban mengisi dan meramaikannya. Jangan jadikan mesjid mesjid megah sebagai gudang kemubaziran. Jika itu yang terjadi, benar kata Mas Picis, Allah lebih senang mengirim Malaikat di Surau Kami.

Judul Buku: Malaikat di Suarau Kami
Penulis: Sunaryo Adhiatmoko
Penerbit: REPUBLIKA

Read More......

Tuesday, September 23, 2008

Patani Damai Dalam Kepungan Tentara Thailand

Akhir Mei lalu, saya mampir ke Provinsi Pattani, Thailand Selatan. Tiga hari di sana, nuansanya mirip Aceh saat DOM dulu. Hampir satu kilometer setelah keluar dari batas wilayah Provinsi Songkhla memasuki Provinsi Pattani, Thailand wilayah selatan. Mendadak sinyal telepon seluler (ponsel) hilang. Ternyata seluruh nomor ponsel yang beroperasi di wilayah ini harus terdaftar. Jika tidak, alamat diblokir total.



Ketentuan khusus ini diberlakukan sejak tiga tahun lalu. Yang terkena aturan ini, nomor ponsel yang beroperasi di Provinsi Pattani, Narathiwat dan Satun. Semua nomor harus didaftarkan ke counter khusus dengan menunjukkan bukti identitas diri. Jika tidak, maka yang muncul di layar handphone hanyalah tulisan emergency calls only.

“Pemblokiran ini dilakukan karena, katanya, peledakan bom jarak jauh dilakukan orang tak dikenal dengan menggunakan telepon genggam. Tapi saya tidak tahu juga itu,” kata Zainuddin, seorang supir mobil sewaan yang membawa saya dan Khairul Ikhwan wartawan detikcom berkeliling di Thailand Selatan, Jumat (30/5/2008).

Pattani merupakan salah satu dari lima provinsi di kawasan selatan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka bagian dari sekitar delapan persen penduduk Thailand yang berjumlah 65 juta jiwa. Sejak lima tahun silam, suhu keamanan sedikit memanas di sini.

Ketidakpuasan akan sikap pemerintah yang berpadu dengan silang-sengkarut masalah lainnya sejak tahun 1970-an, memunculkan kelompok sempalan Pattani United Liberation Organization (PULO) yang menginginkan kawasan ini merdeka sebagai sebuah negara. Pemerintah menanggapinya dengan mengirim serdadu. Proses berikutnya berbagai ledakan dan penembakan yang merenggut korban jiwa terus terjadi. Korban berjatuhan seiring dengan upaya perdamaian yang tengah dijalin.

Kasus terakhir, dua hari lalu sebuah ledakan terjadi dan melukai empat tentara yang sedang patroli di Distrik Khok Pho, Pattani, sementara di Provinsi Yala tentara menembak mati seorang militan. Kejadian semacam ini menjadi runitas berita yang muncul di media massa tentang Thailand sebelah selatan. Masalah ini pula yang membuat sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat mengeluarkan travel warning bagi warganya yang datang ke Thailand.


Namun jika masuk ke sudut-sudut kota Pattani maupun Narathiwat, semua aktivitas berjalan seperti biasa. Pagi hari, warga yang baru keluar dari masjid setelah menunaikan salat shubuh, duduk di warung tepian jalan menyantap sarapan tanpa khawatir apapun. Di pasar ikan, tentara duduk di sudut dengan genggaman erat senjata laras panjangnya, sementara seorang ibu menawar dengan sengit harga kepiting dengan penjual.

“Sebenarnya di sini tidak ada masalah. Semuanya berjalan dengan biasa, tetapi tentara terlalu banyak. Dan malam hari, jika keluar akan banyak pemeriksaan. Hanya tidak nyaman saja. Mungkin kalau tidak banyak tentara, semua akan baik-baik saja,” sambung Zainuddin.

Sepanjang jalan menjadi hal yang menyebalkan bagi Zainuddin. Hampir setiap dua kilometer dia harus mengurangi kecepatan kendaraan karena portal dan barikade jalan yang melintang dan berjejer rapi. Tentara dengan senjata laras panjang AK-47 dan baju antipeluru, menatap setiap kendaraan dengan wajah curiga. Zainuddin pun terpaksa menurunkan kaca dan menebar senyum hampa setiap melewati barikade ini.

Bagi Zainuddin, yang terpenting adalah kedamaian. Dia tidak perlu segala politik kekuasaan dan keamanan. Hanya bagaimana dia bisa mengemudikan kendaraannya dengan damai, tanpa harus menebar senyum hampa saban melewati barikade sepanjang dua kilometer. (rul/)

Read More......

Satu Jam di Myanmar


Dari sisi imigrasi, Myanmar jelas berbeda dibanding negara Asean lainnya. Kebanyakan pemegang paspor dari Asean harus memiliki visa untuk memasuki negara ini. Termasuk Indonesia. Tapi bisa juga masuk ke Myanmar tanpa visa melalui Tachileik.

Tachileik merupakan sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 700 kilometer dari Yangon di Myanmar yang berbatasan dengan Kota Mae Sai, di Provinsi Chiang Rai, Thailand. Ini pintu perlintasan warga kedua negara.


Warga Thailand bisa melewatinya dengan hanya membawa kartu identitas, mengisi formulir untuk melintas dan membayar 30 Baht atau sekitar Rp 9.000 dengan kurs Rp 300 di imigrasi Thailand dan membayar 10 Bath di imigrasi Myanmar. Warga Myanmar juga begitu persyaratannya. Bisa membayar dengan mata uang Baht atau nilai yang sama dalam mata uang Myanmar, Kyat.

Di Tachileik. seluruh warga asing bisa masuk, namun tidak boleh keluar dari kota ini. Paling ke kawasan sekitarnya seperti Kengtung atau Mengla. Prosesnya mudah. Begitu keluar dari imigrasi Thailand, jalan kaki menyeberangi jembatan Nam Ruak dan 200 meter berikutnya langsung memasuki imigrasi Myanmar.

Nah, paspor kemudian diserahkan kepada petugas. Disuruh duduk di depan petugas, dan wajah pun difoto. Paspor itu tetap dipegang petugas dan hanya bisa diambil jika keluar nanti. Gantinya akan diberikan entry permit, kartu izin masuk berwarna coklat seukuran paspor dengan tulisan Union of Myanmar. Lengkap dengan foto yang dijepret petugas di ruang imigrasi tadi. Untuk Izin yang berlaku maksimal 14 hari ini ada pungut biaya. Silakan pilih, bayar 500
Baht Thailand atau US$ 10. Mau tinggal selama 14 hari atau hanya satu detik, biayanya sama.

Begitu keluar imigrasi, suasana berbeda langsung terlihat. Ibarat gula datang ke sarang semut, para pengasong rokok, makanan, paket wisata, dan pengemis langsung merubung. Semua berbicara cepat dalam bahasa Myanmar atau Thailand. Jika tidak mengerti kedua bahasa itu, suaranya akan terdengar seperti bunyi tiang telepon dipukul dengan batu, tang.. tung.. tang.. tang...

Namun yang membuat sport jantung justru penguntit. Dia melangkah pelan mengikuti kemana pun objek incarannya pergi. Memastikan turis tidak macam-macam. Kegiatan memotret di kawasan perbatasan ini juga mencemaskan. Bisa saja tiba-tiba datang seorang intel dengan ekspresi marah dan bertanya mengapa memotret sembarangan, tentu saja dengan bahasa lokal.

Setelah ditunjukkan entry permit, sang intel biasanya paham dan kemudian menyatakan jangan memotret ke arah pintu imigrasi maupun petugas imigrasi, lalu menunjukkan jari telunjuk ke atas. Oh, peringatan pertama.

Karena cuma sekadar meninjau dan tidak bermaksud menginap, maka rentetan pengalaman selama satu jam ini sepertinya hampir menggambarkan bagaimana situasi di Myanmar selain Tachileik. Maka, satu jam terasa sudah demikian lama berada di Tachilek, saatnya kembali ke Thailand.

Di imigrasi Thailand turis tak perlu bayar apa-apa, tak banyak larangan, dan yang terpenting mereka bisa memberi izin tinggal 30 hari tanpa visa. Setelah satu jam di Tachilek, rasanya menurun drastis minat mengurus visa untuk memasuki Myanmar. Satu jam mungkin sudah cukup di Myanmar.khairul

Read More......

Kucing-Kucingan Bantu Myanmar


Satu pekan mengurus visa di Kedutaan Myanmar di Bangkok, hasilnya nihil. Telepon ke Jakarta, pengajuan visa yang melalui kedutaan Myanmar di Jakarta juga belum dikabulkan. Sementara, telepon dari Rangon terus meminta kami bisa hadir di lokasi.
Karena masih tertutupnya akses untuk mengirimkan bantuan secara terbuka ke Myanmar, saya yang memikul tugas Dompet Dhuafa Republika, mengambil jalan tikus kedua kalinya. Kami menyelundupkan bantuan seperti mengirim paket narkotika. Melalui jasa penitipan gelap. Tim relawan kami di Thailand dan Myanmar, mendistribusikan bantuan dengan cara yang rumit.
Berikut saya kutip penggalan kisah dari misi kemanusiaan ini. Sebagaimana ditulis detik.com.
Koordinator Relawan DD di Thailand, Lu Lu Sern menyatakan, sejak mulai mendistribusikan bantuan pada awal pekan lalu, hingga saat ini bantuan yang sudah diterima para korban meliputi tenda plastik, logistik berupa makanan dan obat, pakaian wanita, sarung serta uang tunai.
“Mereka terharu dapat bantuan masyarakat Indonesia, dan berharap bantuan itu terus dapat dikirim, sebab sebagian mereka tidak kuat menunggu berhari hari, kadang di bawah hujan hanya untuk mendapatkan bantuan makanan,” kata Sern, kepada detikcom, Senin (2/6/2008) di Mae Sot, kota kecil di Thailand yang perbatasan langsung dengan Myanmar.
Sern menyatakan, barang-barang bantuan yang didistribusikan itu dibeli di sekitar Kota Rangon. Mereka tidak bisa membawa logistik, semacam tenda yang lebih, atau alat memasak dan pemurni air. Sebab jika dibawa dari Thailand, pemeriksaan sangat ketat di perbatasan dan di sepanjang jalan menuju penampungan para korban.
“Sementara izin masuk secara resmi belum kita peroleh. Kami mengirim bantuan masyarakat Indonesia secara sembunyi. Tentu dengan perasaan khawatir,” kata Sern yang berkewarganegaraan Thailand.

Read More......

Rumitnya Tembus Myanmar

Cerita tentang Myanmar panjang. Juga rumit. Banyak yang ingin saya tumpahkan, tapi waktu belum memberi pikiran tenang. Agar tak basi ditelan waktu, saya terpaksa mengutip rumitnya menembus Myanmar sebagaimana ditulis Detik. Semoga bisa menjadi pengantar cerita perjalanan membawa misi kemanusiaan ke Myanmar.


MYANMAR – Dompet Dhuafa Republika (DD) menyalurkan secara langsung bantuan untuk korban bencana alam Nargis di Myanmar. Bantuan ini terpaksa disampaikan secara berantai karena sulitnya mendapatkan visa untuk masuk ke Myanmar.


Penyerahan bantuan disampaikan Sunaryo Adhiatmoko Ketua Tim DD, Selasa (27/5/2008) kepada perwakilan korban di Tachilek, sebuah kota kecil di Myanmar yang berbatasan dengan Kota Mae Sai, Thailand.


"Sebenarnya kita sudah mengajukan visa untuk memasuki Myanmar, namun seperti diketahui, pemerintah Myanmar menutup diri. Maka bantuan itu kita sampaikan di sini di wilayah khusus di Myanmar yang bisa dimasuki dari Thailand tanpa harus menggunakan visa," kata Sunaryo di Tachilek yang berada sekitar 700 kilometer dari Yangon, Myanmar.

Secara keseluruhan, kata Sunaryo, total bantuan yang diberikan pada tahap awal senilai Rp 100 juta. DD merasa perlu langsung menyampaikan bantuan tersebut secara langsung, karena banyak korban yang belum mendapat bantuan.

"Sejumlah korban yang berada di kawasan Laputta, Ayeyarwady, menyatakan mereka belum mendapat bantuan karena berbagai persoalan," kata Sunaryo.

Perwakilan korban yang menerima bantuan tersebut, melakukan perjalanan darat hampir selama dua hari menuju Tachilek. Namun hanya berani menerima bantuan dalam mata uang negaranya Kyat, bukan mata uang asing. Itupun jumlahnya terbatas, karena khawatir pemeriksaan yang demikian ketat. Mereka juga meminta nama maupun fotonya jangan sampai muncul di media massa karena khawatir diperiksa tentara.

"Jadi bantuan itu disampaikan melalui jasa pengiriman uang di Thailand, agar bisa diterima di Yangon. Ini sulitnya karena kita tidak berada di lokasi. Tetapi tidak masalah, yang penting bantuan dari masyarakat Indonesia sudah mulai disalurkan," kata Sunaryo.

Naryo menyatakan, DD secara khusus merasa perlu datang secara langsung sebab penduduk Muslim Myanmar yang menjadi korban cukup besar. Laporan yang mereka terima menyebutkan, ada sekitar 6.000 ummat Islam yang tewas dan 10 ribu lainnya menjadi pengungsi di Myanmar yang menjadi korban bencana Nargis yang terjadi 2 Mei lalu.

"Kita belum dapat mengkonfirmasi data awal tersebut. Namun berdasarkan informasi dari tim jaringan relawan DD di sana, jumlahnya memang banyak. Jika sudah bisa masuk ke sana, Insya Allah kita bisa mendistribusikan bantuan yang lebih banyak," kata Sunaryo.

Read More......

Thursday, May 01, 2008

Di Balik Pesona Gunung Egon

Gunung Egon, tegak angkuh. Ia menancap kokoh di Pulau Flores. Dari lereng gunung yang dalam kurun 2 tahun, sudah tiga kali meletus itu, pesona keindahan alam menakjubkan. Sejauh mata memandang, terbentang lautan biru tak bertepi. Dibalik pesonanya, gunung Egon ternyata juga menyimpan bahaya.



Jika Egon meledak dahsyat, kemana penghuni pulau ini lari. Menuju gunung, berhadapan dengan lahar panas dan hujan debu. Turun ke pesisir, terhadang samudra. Bayangan ini mungkin terlalu dramatis, tapi melihat Egon yang terus aktif, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Waspada dan siaga, pada akhirnya hal penting yang harus dilakukan masyarakat setempat.

Seperti gunung Merapi di Yogyakarta dan gunung Kelud di Kediri, masyarakat di sekitar gunung Egon, juga memiliki kearifan lokal sendiri. Mereka seakan tahu, kapan gunung berbahaya dan kapan ia bersahabat. Pada zaman yang telah lahir teknologi pembaca aktivitas gunung api, idealnya bisa dipadukan antara kearifan lokal dengan kecanggihan teknologi.

Meski pada realitanya, masyarakat di sekitar daerah rawan bencana, kerap mengabaikan ramalan teknologi itu. Seperti, di desa Bahukrenge yang berjarak kurang dari 3 km, dari bibir kawah Egon. Meski pada 2004, para ahli volcanologi telah merekomendasikan desa ini dikosongkan, masyarakat bergeming.

Adeo Datus Dewa, kepala desa Bahukrenge, menolak untuk mengosongkan desa itu. Sebuah desa bak surga, di gugusan kepulauan Flores yang kering dan tandus. Desa ini penghasil sayuran dan beras. Tempat subur bercocok tanam dan jauh dari paceklik yang selalu menghantui masyarakat NTT, umumnya.

“Ini tanah kami, warisan dari nenek moyang kami. Di sini tanahnya subur. Kami tidak takut gunung meletus”, tandas Adeo Datus Dewa, kukuh.

Tatkala gunung Egon meletus, Selasa malam, (15/4), Adeo dan warga Bahukrenge, hanya panik sesaat. Mereka menghambur keluar rumah, cari tempat perlindungan. Setelah fajar menyingsing, mereka kembali ke desa lagi. Meski debu tebal menutup desa dan bau belerang menyengat, warga Bahukrenge seperti sudah terbiasa.

Padahal, letusan gunung Egon, April lalu cukup dahsyat. Semburan debunya mencapai radius puluhan kilometer, dengan ketebalan mencapai 0,5 cm. Desa desa di lereng gunung Egon yang terkena dampak parah letusan ini, meliputi, Egon Gahar, Hale dan Hedi, Nangatobong, dan Bahukrenge. Bahkan, debu Egon sampai di sepanjang trans Maumere – Larantuka.

Sebelum hujan turun, bau belerang dan debu, amat mengganggu kesehatan warga Desa Bahukrenge. Tapi mereka enggan mengungsi, karena menganggap letusan ini sudah biasa terjadi. Mereka bertahan di dalam rumah. Setelah air hujan mengendapkan debu, warga Bahukrenge kembali aktif bercocok tanam.

Masyarakat desa ini, sebenarnya pernah direlokasi. Tapi gagal, mereka kembali ke Bahukrenge lagi. Seperti diakui Adeo, kesuburan lahan menjadi alasan kuat penolakkan itu. Setiap Rabu, Bahukrenge diramaikan para pendatang dari desa desa bawah dan pesisir. Seperti dari kota Maumere. Bahukrenge, tiap Rabu jadi pasar sayur. Mobil pick up berdatangan ke desa itu, mengangkut hasil bumi lereng Egon. Pada hari biasa, ganti warga Bahukrenge yang turun ke kota menjual hasil pertaniaannya.

Menurut Adeo Datus Dewa, hasil pertanian desa Bahukrenge, dapat mencukupi kebutuhan sayur mayur masyarakat se-Flores. Namun, meski daerah subur, masyarakat desa ini tak sesejahtera petani di Lembang, Bandung, dan petani di pulau Jawa. Kehidupan mereka, masih mentok di bawah garis kemiskinan.

Tingkat pendidikan masyarakat Bahukrenge, juga rendah. Sejak letusan Egon 2004, di desa ini tidak ada lagi sarana pendidikan dan fasilitas umum lainnya. Gedung sekolah dasar yang semula ada, sudah ditutup, pindah ke desa Egon Gahar. Anak anak Bahukrenge, harus menempuh jarak 3,5 km, menuju desa paling bawah, jika ingin sekolah.

Medan menuju Bahukrenge cukup sulit. Selain jalannya sempit, juga berliku, dengan aspal yang mulai hancur. Pasca letusan itu, akses jalan raya juga terputus oleh debu tebal. Dua pekan kemudian, baru bisa dibuka dengan pengeruk traktor.

“Kami tak dapat menjangkau Bahukrenge. Bantuan hanya bisa sampai di desa bawah”, terang Iman Surahman, koordinator lapangan Dompet Dhuafa Republika (DD) yang terjun membantu korban letusan gunung Egon.

Menurut Iman, distribusi air bersih yang dilakukan relawan DD, hanya sampai di Desa Nangatobong, Egon, dan Egon Gahar. Desa Bahukrenge, tidak dapat ditembus dengan truk tangki air.

“Bahukrenge memang paling rawan bahaya. Tapi kelihatannya, masyarakat tidak punya pilihan lain kecuali harus menetap”, kata Iman yang selama satu pekan berada di lokasi.

Tak mudah memang, menerapkan teori dan standar keselamatan jiwa secara ideal. Saat menyentuh urusan perut dan kelangsungan hidup, marabahaya seakan tidak menakutkan. Mereka telah mengakrabi ancaman bencana, dengan kearifan lokal, berdasar keyainan mereka.

Jika keyakinan itu salah? Entahlah, yang pasti cara hidup menantang maut seperti itu, kerap kita jumpai di masyarakat kecil negeri ini. Mereka yang berada dekat dengan daerah rawan bencana, maupun mereka yang terjerat akar kemiskinan.

Satu hal bisa kita pelajari, mereka tak menjalani hidup ini, dengan cara cara mudah, seperti korupsi. Mereka punya semangat, keberanian, dan harga diri, untuk hidup bermartabat.

Read More......

Bilakah Sampannya Kembali

Hati Mursydin (52) sekan teriris iris. Tiap ia kenang sampannya yang hilang. Deburan ombak yang mengempas pesisir Maumere, seperti membawa pulang sampan kecil itu. Ia tengok, tapi selalu hampa. Dia hanya dapati perahu ukuran besar yang berlabuh di pantai. Mursydin mulai kerap termenung. Batinnya guncang, memikirkan sampan itu.


Waktu sampan belum hanyut ke laut, Mursydin menggunakannya untuk mancing ikan. Ia bisa menghidupi istri dan 9 anaknya. Sejak sampan hilang, Mursydin terpaksa minjam sampan pada saudara dan tetangganya. Ia menunggu berjam jam, sampai pemilik sampan mendarat. Setelah itu, ia baru bisa melaut dengan cuaca yang tak mampu ia pilih. Mursydin tak leluasa seperti dulu, dapat memilih saat saat jam ikan kumpul.

Satu bulan setelah sampan hilang, ujian lebih berat menimpa lelaki mualaf itu. Malam itu, cuaca buruk mengintai pesisir Maumere. Tapi Mursydin tidak menyadari, karena telinganya tidak dapat lagi mendengar suara apapun. Ruhmania (42), sang istri, telah mengingatkan dengan bahasa isyarat, kalau angin di luar kencang. Tapi Mursydin diam. Ia malah beranjak tidur. Pulas.

Kali ini, deru angin makin mengerikan. Perkampungan di pesisir Maumere, seperti tersapu. Ruhmania yang baru mau tidur, terbelalak. Ia segera membangunkan anak anaknya. Sementara suaminya tetap pulas.

“Hai bapak! Kita punya rumah mau terbang ini! bangun!”, teriak Ruhmania cemas. Mursydin malah mendengkur.

“Anak anak, bangunkan bapak kalian!”, Ruhmania panik.

“Bapak! Bapak! Ayo bangun!”, jerit anak anaknya sembari memukul mukul tubuh ringkih Mursydin.

“Hai! Ada apa kalian bangunkan bapak!” nyawa Mursydin belum kumpul. Ia masih bingung. Tatkala kepalanya mendongak ke langit, ia mulai sadar.

“Lho! dimana aku tidur!” Mursydin bangun, kaget. Ia tengok atap rumahnya sudah hilang. Benda benda di sekitarnya juga bergoyang hebat. Kini ia mulai panik. Tangannya, bergegas menarik tangan istri dan anak anaknya.

“Ayo kita lari!” Mursydin bergegas. Sembari masgul, Ruhmania dan anak anaknya mengikuti arah lari Mursydin.

Belum 100 meter berlari, mereka berhenti. Dalam pendar pendar lampu kapal, Mursydin menengok sejenak rumahnya.

“Brusss!” ombak tinggi naik lebih dari 100 meter dari pantai. Rumah Mursydin lenyap seketika. Mursydin lemas. Ia lunglai tak mampu lari lagi.

“Ya Allah, apalagi yang Engkau ambil dari kami”, gugat Mursydin lirih.

Esok pagi, ia tengok rumahnya sudah tidak berbekas. Sejak itu, bersama korban lainnya, Mursydin tinggal di tenda darurat. Suatu hari, ia pernah didata untuk menandatangani kertas bantuan. Isi bantuannya, seng, paku, kayu, dan beras. Tapi setelah datang, yang ia terima bersama korban lainnya, hanya seng. Point yang lain, tidak pernah sampai, hingga kini.

Dari 9 anak Mursydin, hanya satu yang sekolah. Itupun karena ada yang menitipkan di panti asuhan Surabaya. Anak itu yang kelak diharap harap Mursydin, bisa membawa pulang kembali sampannya yang hilang. Namun, penantian itu tidak pasti. Sementara, keluarga Mursydin, harus melanjutkan hidup.

Menurut Ruhmania, Mursydin malu sampai kini masih pinjam sampan. Pikirannya jadi tertekan. Tapi hanya itu yang dapat diperbuat saat ini. Sampai sampai, ia berangan angan, jika kelak punya sampan akan meminjamkannya ke orang lain.

Sore itu, angin di pesisi Maumere cukup kencang. Di depan tenda daruratnya, Mursydin memandang laut Flores. Mungkin ia masih berharap, sampannya kembali, menyembul dari dasar laut. Mungkinkah Mursydin?

Read More......

Ancaman Rawan Pangan


Pangan langka dan mahal tidak saja menerpa secara langsung warga termiskin di dunia. Inflasi, yang didongkrak harga pangan dan minyak, juga mulai menggerus ekonomi dan dikeluhkan di banyak negara. Topik pembicaraan terus berkembang dan makin mengarah pada probabilitas terjadinya stagflasi global.



Presiden World Bank, Robert Zoellick, awal April lalu mengingatkan, krisis pangan bisa memicu perang. Menurutnya, akan ada 33 negara di seluruh dunia yang mengalami masalah instabilitas politik dan sosial, akibat tingginya harga bahan pangan dan harga bahan bakar minyak.

Ungkapan Zoellick bukan pepesan kosong. Kini, kerusuhan akibat kelangkaan bahan pangan terjadi di Mesir, Pantai Gading, Madagaskar, Kamerun, Filipina, Papua Nugini, Mauritania, Mexico, Maroko, Senegal, Uzbekistan, dan Yemen. Perdana Menteri Haiti, bahkan dimakjulkan dari jabatannya, gara-gara soal perut yang menyebabkan lima warga mati, ditembak dalam kerusuhan massal.

Padahal, menurut Amartya Zen (1998), sepanjang sejarah dunia, sebenarnya tidak pernah bumi ini mengalami kekurangan dalam penyediaan bahan pangan. Tapi yang terjadi, distribusi tidak merata sehingga krisis demi krisis kerap terjadi.

Bahkan, FAO dalam laporannya tahun 2004 menyatakan, peningkatan produksi pangan dalam 35 tahun terakhir telah melampaui laju pertumbuhan penduduk dunia, sebesar 16%. Lantas mengapa rawan pangan mengancam?

Masalahnya adalah, negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, ‘’mengatur’’ pertanian negara- negara lain, agar menguntungkan pertanian mereka sendiri. Misalnya lewat tangan WTO (World Trade Organization), mereka melakukan politik pertanian internasional mazhab Neo-liberalisme dengan memaksakan kesepakatan AOA (Agreement on Agriculture) WTO.

Menghadapi ancaman rawan pangan ini, berbagai negara, kini bergegas melakukan langkah antisipasi, setidaknya menjamin pengadaan pangan. China telah memperbaharui program insentif di sektor pertanian dengan dukungan Rp 80 triliun dana. India dan Filipina, memilih pembangunan prasarana pedesaan, pengadaan bibit unggul dan sarana pendukung pertanian. Lantas, apa yang kini bisa dilakukan Indonesia?

Setidaknya, kita bisa mulai melakukan moratorium liberalisasi perdagangan. Tahan ekspor komoditas pangan, menstabilkan cadangan emas, menyimpan hasil pertanian (padi, jagung, kedelai, dll) bukan malah dijual ke luar negeri, tidak mencari utang baru, menentukan skala prioritas kebutuhan pokok di setiap lini, dan meninjau ulang semua investasi asing, terutama yang terkait tambang dan sumberdaya alam.

Lebih strategis lagi, kita harus berani keluar dari WTO. Bentuk perjanjian yang menjerat leher bangsa ini, sejak 1995. Kita perlu bererat-erat dengan negara negara yang bersih dan berpihak. Negara negara yang tidak melumuri bangsanya dengan darah bangsa lain, sebagai penjajah. Tapi, untuk memutuskan keluar, rakyat bangsa ini perlu berdoa sepenuh hati, agar pemerintah yang kita cintai ini, berani memilih jalan bermartabat itu.

Read More......

Friday, April 18, 2008

Ini Soal (Politik) Perut, Bung!

“Tanpa pertanian, penduduk dunia tidak dapat meneruskan kehidupan mereka”. (Adam Smith: The Wealth of The Nations, 1776).

‘’Krisis pangan bisa memicu perang,’’ Presiden World Bank, Robert Zoellick, mengingatkan 2 April lalu. Menurutnya, akan ada 33 negara di seluruh dunia yang mengalami masalah instabilitas politik dan sosial akibat tingginya harga bahan pangan dan harga bahan bakar minyak.

Seperti dilansir lembaga riset beras dunia (International Rice Research Institute/IRRI), dunia dihadapkan pada krisis pangan akibat tekor suplay pangan khususnya beras terhadap permintaan. Laporan Bank Dunia tahun lalu menyatakan harga gandum dunia melonjak 181% selama 36 bulan hingga Februari 2008, sedang harga pangan keseluruhan naik 83 persen. Harga beras dunia pun mengamuk menjadi US$700 per ton. Melonjak 50% dibanding harga akhir Januari lalu.

Ditengarai, ketekoran pangan akibat dua eksportir besar beras dunia yakni Thailand dan Vietnam, dihajar hama dan banjir. Padahal, selama ini Thailand mampu memproduksi 22 juta ton/per tahun dan mengekspor 7,5 juta ton diantaranya. Sedangkan Vietnam memproduksi 18 juta ton/tahun dan mengekspor 5 juta ton diantaranya.

Tak lama setelah Zoellick bersabda, kerusuhan-kerusuhan akibat kelangkaan bahan pangan terjadi di Mesir, Pantai Gading, Madagaskar, Kamerun, Filipina, Papua Nugini, Mauritania, Mexico, Maroko, Senegal, Uzbekistan, dan Yemen. Di Pakistan, batalyon pasukan diturunkan untuk mengamankan truk-truk pengangkut tepung gandum. Perdana Menteri Haiti bahkan dimakjulkan dari jabatannya, gara-gara soal perut yang menyebabkan 5 warga mati ditembak dalam kerusuhan massal.

Itu belum seberapa. David Ignatius, pengamat ekonomi dan kolumnis dari Washington Post, menulis, tingginya harga beras hanyalah masalah kecil. Ada masalah yang lebih besar yang segera tiba, yakni an
caman inflasi global terutama akibat kenaikan harga bahan pangan.

Berdasarkan data IRRI, saat ini 2,4 miliar penduduk dunia sangat bergantung pada beras. Dengan kontribusi belanja rumah tangga sebesar 20%, kenaikan harga akan memicu inflasi besar-besaran. Tentu saja yang paling terpukul adalah rumah tangga miskin, yang 70% anggaran pendapatannya dialokasikan untuk beras seperti di Indonesia.

Menurut prediksi FAO, 36 negara di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin mengalami krisis pangan, termasuk Indonesia. Global Information and Early Warning System dari FAO menyebutkan, Indonesia termasuk negara yang membutuhkan bantuan negara luar dalam mengatasi krisis itu, selain Irak, Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan Timor Leste.

Menurut Amartya Zen (1998), sepanjang sejarah dunia sebenarnya tidak pernah bumi ini mengalami kekurangan dalam penyediaan bahan pangan. Tapi yang terjadi, distribusi tidak merata sehingga krisis demi krisis kerap terjadi. Hal ini diakui oleh FAO dalam laporannya tahun 2004. Laporan menyatakan, peningkatan produksi pangan dalam 35 tahun terakhir telah melampaui laju pertumbuhan penduduk dunia, sebesar 16% yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kini pun, ketika dunia meneriakkan resesi pangan, produksi beberapa komoditas pangan dunia sebenarnya meningkat. Produksi gandum naik hingga 9,34 juta ton antara tahun 2006 dan 2007. Sedangkan produksi gula dunia meningkat sebesar 4,44 juta ton sepanjang tahun lalu. Produksi jagung, tahun 2007 lalu mencapai rekor produksi 781 juta ton atau meningkat 89,35 juta ton dari total produksi tahun sebelumnya. Hanya kedelai yang mengalami penurunan produksi sebesar 17%. Itu pun karena ada penyusutan lahan di Amerika Serikat sebesar 15% untuk proyek biofuel.

Lalu, apa masalahnya?

"Masalahnya adalah mutlak struktural," jawab Stuart dari Oxfam.

Oxfam, LSM di bidang kemanusiaan dan pembangunan, dalam laporan Agustus 2003 bertajuk ‘’Running into the Sand’’ mengungkapkan, negara-negara maju telah memberi subsidi satu miliar dollar AS per hari pada petani mereka.

Nilai subsidi itu besarnya enam kali lipat dari nilai bantuan yang diberikan pada negara-negara miskin. Negara-negara Uni Eropa telah mengucurkan subsidi kepada petani gula 50 euro/ton panen tebu. Sama dengan lima kali lipat harga pasar gula dunia.

Negara-negara maju
juga memberikan proteksi berupa hambatan tarif dan nontarif, bagi produk pertanian guna mencegah masuknya berbagai komoditas serupa yang berpotensi mematikan bisnis petani lokal. Misalnya, Jepang mematok bea masuk impor beras 400%.

Sebaliknya, negara-negara besar itu ‘’mengatur’’ pertanian negara-negara lain agar menguntungkan pertanian mereka sendiri. Misalnya lewat tangan WTO (World Trade Organization), mereka melakukan politik pertanian internasional mazhab Neo-liberalisme dengan memaksakan kesepakatan AOA (Agreement on Agriculture) WTO. Termasuk kepada Indonesia, yang meneken perjanjian ini sejak 1995 hingga kini.

Butir-butir kesepakatan AOA-WTO itu, Pertama, kesepakatan market access (akses pasar) komoditi pertanian domestik. Pasar pertanian domestik di Indonesia, harus dibuka seluas-luasnya bagi komoditi pertanian luar negeri.

Kedua, penghapusan subsidi dan proteksi negara atas bidang pertanian. Negara tidak boleh melakukan subsidi bidang pertanian, baik subsidi pupuk atau saprodi lainnya serta pemenuhan kredit lunak bagi sektor pertanian.

Ketiga, penghapusan peran STE (State Trading Enterprises) Bulog, sehingga Bulog tidak lagi berhak melakukan monopoli dalam bidang ekspor-impor produk pangan.

Karena itulah, Brasil dan India tahun lalu walk out dari perundingan empat negara (G-4) plus Uni Eropa di Postdam. Menteri perdagangan Brasil dan India tak mau dicurangi Amerika, yang memberikan tawaran pemotongan subsidi pertanian terlalu kecil. Amerika dan Uni Eropa, juga menekan India dan Brasil agar lebih membuka pasar mereka untuk produk-produk asing dengan kemudahan.

‘'Pertemuan ini tidak ada gunanya sama sekali,‘’ geram Menlu Brasil Celso Amorim. Menurut laporan BBC, Kegagalan pertemuan itu membuat masa depan perundingan WTO secara keseluruhan yang biasa disebut Putaran Doha menjadi tidak menentu.

Bisakah Indonesia punya nyali seperti India dan Brasil?

Dalam temu wicara dengan petani padi se-Jabar sekaligus panen benih padi varietas Mira-1, di Desa Rancadaka, Pusakanagara, Subang, 4 Juni 2007, Presiden SBY memaparkan enam pilar yang menjamin kem
ajuan di bidang pertanian Indonesia. Yakni: kebijakan pemerintah yang baik, inovasi teknologi, infrastruktur yang mendukung, budaya petani, lingkungan hidup, dan kepemimpinan.

Pemerintah sudah cukup baik dengan menerbitkan Inpres No. 3/2007 tentang perberasan, yang mengendalikan harga pembelian untuk menjaga kestabilan serta keadilan harga beras dan gabah. Sebab, "Jika diserahkan kepada mekanisme pasar, saya khawatir akan terjadi ketidakadilan dalam menentukan harga. Dalam hal ini tentu pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membentuk keadilan tersebut," kata SBY.

Padahal, menurut David Burton, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, menanggapi proteksipertanian di Asia, "Saya kira tindakan terbaik adalah mengijinkan mekanisme pasar berjalan, dimana membiarkan harga-harga naik kemudian akan ada respon terhadap suplainya."

Menurut Komite Penghapusan Hutang Negara-Negera Dunia Ketiga, biang utama krisis pangan di negara-negara miskin justru adalah kebijakan imperialistik Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Seperti dilansir Televisi BBC 16 April lalu, komite yang berpusat di Belgia, itu menegaskan, IMF dan Bank Dunia, sejak 20 tahun lalu memaksa negara-negara Selatan menerapkan kebijakannya, sehingga menyebabkan kerugian besar negara-negara tersebut.

Komite ini menambahkan, kini rakyat negara-negara Selatan terpaksa harus membayar mahal program-program IMF dan Bank Dunia. Semestinya dua lembaga itu yang menanggung dosa dari kesalahan tak terampuninya ini. Tapi kini, IMF dan Bank Dunia malah berupaya menyembunyikan kesalahannya dengan memanfaatkan isu krisis inflasi dan pangan dunia.

Nah, sekarang, beranikah kita keluar dari ketiak IMF dan World Bank? Ini urusan (politik) perut, Bung! Jangan sampai tragedi Haiti terjadi di sini. pane fakri

Read More......

Pejuang Dari Babakan Sabrang

Rindu kami padamamu ya Rasul. Rindu tiada terperi…
Nuraini dan teman temannya, menyanyikan “Rindu Kami Padamu”, garapan Bimbo itu, dengan merdu. Petikan dawai gitar yang mengiringinya, membuat suara kian menyayat. Group paduan suara SMP Alternatif Cendekia ini, benar benar mengeluarkan vokal dengan hatinya. Mata mereka sampai berkaca kaca. Sedalam itukah?


Kelihatannya ada sebab lain. Sebelum lagu itu dinyanyikan, anak anak bercerita kisah hidupnya yang tak terperi. Nuraini misalnya, ia punya cita cita jadi penulis. Tapi kehidupan orang tuanya sulit. Sejak kecil, ia tinggal bersama neneknya. Demikian juga Atik, dia pernah tak makan saat orang tuanya tidak mampu beli sembako.

“Saya pernah kak tidak makan. Satu hari setengah”, celetuk Atik polos. Menurutnya tak hanya sekali, beberapa kali malah. Apalagi saat harga harga naik seperti hari ini, sulitnya amat terasa. Wajar, tatkala lagu yang syahdu itu dinyanyikan, mereka mendalami hingga tulang sumsum.

Nuraini, Atik, dan teman teman sebayanya, hanya mampu menempuh pendidikan di SMP Terbuka. Mereka secara ekonomi tidak mampu sekolah di pendidikan formal. Tetapi, tatkala ujian, mereka akan menginduk ke SMP Negeri setempat.

Sekolah terbuka yang berada di Desa Babakan Sabrang, Ciseeng, Bogor itu, dirintis oleh Hadisuryanto. Mulanya, ia seorang mahasiswa yang sedang KKN di desa itu, pada 2002. Hubungannya dengan masyarakat setempat, meluruhkan nurani Hadi. Ekonomi lemah dan pendidikan yang rendah, menjadi keprihatinan lelaki berambut gondrong itu.

“Saya senang tinggal di sini. Tahun 2003, saya buat sanggar belajar di rumah seorang ustad. Saya ngajar matematika, komputer, dan bahasa Inggris. Respon anak anak sangat antusias”, kenang mahasiswa Madina Ilmu, Depok itu.

Sejak itu, ia makin terpikat dengan kondisi anak anak Desa Babakan. Apalagi, kebanyakan anak muda di desa ini hanya lulus sekolah dasar. Mereka banyak yang nikah muda. Bulat sudah tekad Hadisuryanto, untuk membantu generasi Babakan mendapat mencerahan pengetahuan. Apapun caranya, mereka harus sekolah.

“Saya akan tetap bertahan, sampai saya bisa melihat anak anak mandiri. Karena mereka yang nanti akan melanjutkan perjuangan ini”, tekad ayah satu anak yang terpisah jarak ini. Hadi tinggal di Ciseeng, sementara istri dan anak pertamanya yang baru umur dua bulan, tinggal di Palembang.

Mendirikan sekolah gratis ternyata tak mudah. Hadi harus memutar akal, bagaimana sekolah itu bisa bertahan. Ia pun menghubungi teman teman kuliahnya, untuk menjadi guru di sekolah itu. Tak hanya dari teman satu kampus, guru gurunya juga datang dari mahasiswa Gunadarma Depok.

SMP Alternatif Cendekia, menempati kontrakan rumah Rp 3,2 juta per tahun, di Jl AMD Raya No 14. Juni ini, masa kontrak habis dan tak bisa diperpanjang lagi. Muridnya 78 Anak. Mereka juga berasal dari desa sekitar, seperti Cigombong, Ciseeng, dan Prigi. Anak anak, banyak yang jalan kaki dua jam untuk ke sekolah. Di dalam kelas, terdapat tiga unit komputer, beberapa buku pelajaran, dan meja duduk tanpa kursi. Karena sempitnya ruangan, jadwal sekolah dibagi dua, pagi dan sore.

Tahun lalu, Hadisuryanto bertemu seorang dermawan. Tatkala melihat aktivitas SMP terbuka ini, orang itu luluh hatinya. Akhirnya, ia membatalkan rencana umrohnya bersama keluarga. Biaya untuk rencana umroh itu, akhirnya disumbangkan ke SMP Cendekia dalam bentuk 600 meter tanah. Saat ini, di lahan itu, tengah dibangun gedung sekolah. Hadi menerima bantuan itu syukur, juga masgul. Sebab, ia harus mencari dana tambahan untuk proses pembangunannya yang tertatih tatih.

“Jujur saja, kalau dulu saya tahu rasanya begini, saya nggak berani membuat sekolah ini mas. Benar benar berat. Tapi saya tak akan mundur”, tandasnya. Ia juga berencana, gedung itu nanti dapat menampung jenjang SMA. Rencananya, tahun ajaran ini.

Perjuangan Hadi tak sia sia. Anak anak di sekolah itu, mengaku bersyukur ada sekolah ini. Jika tidak, meraka pasti terhenti hanya di bangku sekolah dasar. Dengan pengetahuan, kini mereka punya asa. Nuraini ingin jadi penulis, Atik mau jadi guru, dan anak anak yang lain semua punya mimpi menggapai bintang.

Meski untuk itu, Hadi tak rampung kuliahnya. Terpisahkan dengan anak dan istri. Lelaki gondrong yang bersahaja itu, telah memberikan hidupnya, untuk anak anak yang termarginalkan. Kami malu padamu Hadi.

Read More......

Tuesday, April 15, 2008

Ini Indonesia Bung!

Mahalnya beras dan kelangkaan minyak tanah, tak mengusik hidup Abdullah (72) yang akrab disapa Pak Abdul. Sebab, warga Kampung Cibarani, Desa Karangnunggal, Cirinten, Banten, ini memang sudah beberapa bulan terakhir ‘’putus hubungan’’ dengan kedua komoditas itu. Tepatnya setelah harga beras dan minyak tanah membubung tinggi sehingga menjadi barang mewah buatnya.


‘’Sekarang kita mah pake kayu bakar dan makan singkong bae,’’ katanya sambil asyik menganyam kulit bambu untuk dibuat besek. Untuk membakar kayu, tak perlu minyak tanah. Cukup memakai dedaunan kering yang gampang dijumpai di kampungnya. Memang agak lama, tapi Pak Abdul sudah biasa menikmati kesusahan.

Istri, menantu, dan cucu Pak Abdul juga mulai terbiasa melawan kerasnya hidup. Mereka mewarisi ilmu anyam si kakek yang masih cukup gesit itu.

Spirit keluarga Pak Abdul tak lepas dari gemblengan Ustadz Dulhani, da’i Dewan Da’wah yang berdinas di perbatasan Badui Dalam. Dulhani berpesan agar jamaah pandai-pandai berkelit dari peliknya kehidupan. Baik tantangan alam maupun kebijaksanaan ‘’Jakarta’’ yang seringkali tidak masuk dalam hitungan hidup warga terpencil seperti warga Cibarani.

Maka ketika pemerintah memaksa rakyat beralih dari minyak tanah ke gas elpiji, Dulhani mengajak warga Cibarani beralih ke kayu bakar dan dedaunan kering. Sebab, kompor gas dan elpiji masih menjadi makhluk asing di Karangnunggal yang terpencil.

‘’Kalau pake kayu bakar nggak boleh karena dianggep balakan liar, ya kita bakar ranting dan daun kering. Kalau itu juga nggak boleh, ya kita bakar gubug kita,’’ tutur Pak Abdul sambil terkekeh geli. Menertawakan nasibnya sendiri.

Abdullah sekeluarga, bertahun-tahun memang hidup di gubug berdinding bambu. Mereka juga memperoleh penghasilan pas-pasan dari kerajinan tangan menganyam kulit bambu. Tapi, tentu saja pilihan pada bambu ini bukanlah agar mudah dibakar sewaktu-waktu.

Tapi, kalau tahu, tempe, beras, minyak tanah, sudah jadi barang mewah, suatu saat nanti mungkin Pak Abdul memang harus menjadikan gubugnya sebagai bahan bakar. Who knows. Ini Indonesia, Bung! (Pane Fakhri)

Read More......

Friday, April 11, 2008

Lonceng Kematian LAZ

Ssst, draft RUU Zakat pengganti UU 38/1999, sampai di tangan. Di era keterbukaan, menggagas diam-diam mematangkan misteri. Harusnya melegakan, tapi resah yang terpicu. Bola jelas bakal liar, yang implikasinya meluas. Kebijakan seolah cuma uji coba. Tak peduli pada tatanan yang telah terpola sebaik apapun. Gairah zakat berkat paduan strategi dan siasah selama ini porak poranda. Struktur yang terbentuk pun terjungkal sia-sia. Bingung, yang meretas kebingungan lain. Ketidakpastian, itulah kepastian yang dihadapi di tiap perubahan UU.


Enam Soal

RUU Zakat setidaknya punya delapan perkara. Tulisan ini merupakan satu dari delapan rencana tulisan berseri. Kini kita kupas pasal 7 ayat 2. Isinya: “Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang telah dikukuhkan di instansi pemerintah dan swasta diubah statusnya menjadi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dari Badan Amil Zakat (BAZ) setempat”.

Ada enam masalah berkait dengan pasal ini. Pertama nasib LAZ memang tak pernah dihargai. Pasalnya jelas. Karena LAZ seperti DD Republika, RZI, PKPU, BM Hidayatullah dan DPU DT merupakan produk masyarakat. Bukan ingin mendahului kehendak Allah SWT. Tapi tanpa LAZ, dunia zakat di Indonesia tak bakal marak. LAZ terbukti menginspirasi lahirnya tiga hal penting. Pertama UU 38 tentang Pengelolaan Zakat disahkan tahun 1999. Kedua LAZ membuahkan hasil terbentuknya sub-direktorat zakat di Depag. Dan ketiga, tanpa LAZ mustahil BAZNAS ada.

Tapi pameo ’air susu dibalas dengan air tuba’, bukan tanpa makna. LAZ sang inspirator, justru sedang dikubur oleh lembaga yang lahir berkat LAZ. Sementara beberapa negara luar yang telah kirim dutanya – seperti Tanzania tahun 2002 – amat tertarik dengan LAZ sebagai satu role model. PPZ (Pusat Pungutan Zakat) Malaysia, bahkan juga jajaki aliansi twin sister dengan DD Republika.

Di 2002 itu juga, Indonesia masuk dalam 59 negara gagal yang dibahas World Economic Forum dan Universitas Harvard. Ciri negara gagal, di antaranya angka kriminal dan kekerasan tinggi; korupsi meraja lela; miskinnya opini publik; serta tingginya suasana ketidakpastian (Meuthia Ganie-Rochman, Kompas, 4 Jan’08). Kontradikitf: di sisi pengelolaan zakat, LAZ jadi role model. Di penyelenggaraan negara, Indonesia masuk dalam contoh studi pembangunan negara gagal.

Soal kedua alih-alih asset, di mata pemerintah, LAZ adalah pesaing. Aroma ini sudah tersedak di UU 38/1999. Begitu semangatnya, hingga arsitek UU 38/1999 gagal sembunyikan ketersinggungannya karena zakat dikelola masyarakat. Padahal konsep negara modern, menuntun pemerintah tak perlu berlelah-lelah kerjakan serba sendiri. Lebih-lebih kemiskinan yang 120 juta orang (World Bank), harusnya mentawadhukan pemerintah lebih rendah hati. Syukur-syukur bisa melafal hamdallah karena hadirnya LAZ. Apalagi sebagai negara gagal, mestinya pegiat zakat dihadiahi medali. Lho, malah diancam.

Dan justru itulah soal ketiga, kreatifitas bottom up dicoba diberangus. Padahal dalam konteks negara gagal, kreatifitas jadi penghela untuk lepas dari keterpurukan. Bottom up jelas bukti konkrit masyarakat yang tak pernah bisa diam. Lantas bukankah kreatifitas bottom up LAZ, hasilkan pengelolaan zakat ala Indonesia. Khasanah pengelolaan zakat dunia diperkaya. Konteks zakat, hanya bisa dikuak muamalahnya dengan kreatifitas. Gaya top down Orde Baru, ternyata masih kuat melekat. Maka kemandegan, itulah tanda-tanda dunia zakat Indonesia ke depan.

Keempat, karena dunia zakat mandeg, motivasi pun tergerus. Kebijakan ini menambah contoh, ihtiar selalu disumbat. Apakah karena pemerintah, kebijakan mematikan pun otomatis dianggap maruf? Demotivasi pegiat zakat, bakal terpicu hebat. Begitu RUU disahkan, dunia zakat Indonesia pasti ditinggal orang-orang terbaiknya. Kebijakan yang ‘mengganggu’ ini, berpotensi gagalkan tujuan kebijakan itu sendiri.

Kelima, atas nama agama, kebajikan zakat yang telah nyata dicerabut. Di balik kebajikan, itulah kepercayaan. Namun karena dianggap benda mati, kepercayaan seolah mudah saja dialihkan pada lembaga bentukan pemerintah. BAZ-nya tak salah. Kredibilitas pemerintah yang jadi soal. Berbeda dengan calhaj yang terpaksa ‘mau’ diatur karena no choice. Bagi sebagian muzaki, gaya top down jadi problem. Begitu RUU disahkan, itulah aba-aba: Memilih salurkan langsung ke masyarakat, tetap ke LAZ meski diberangus atau turuti kehendak RUU.

Maka keenam, siapa bakal ambil alih tanggung jawab dan biaya kegiatan yang telah berjalan di masyarakat? Negara bukan hanya terbukti gagal lindungi, rakyat miskin malah terus bertambah. Sedang LAZ yang coba membantu, justru hendak dipunahkan. Dibantu malah tersinggung.

Tanggalkan Baju Zakat
RUU Zakat, agaknya kebijakan ketersinggungan. Gegabahnya menikam banyak pihak. Masyarakat pun digiring apatis. Mudahkah gapai tujuan yang dipandu nalar ego? Set back dan demotivasi. Begitu kekagetan banyak pihak menyimak RUU Zakat. Siapa yang tak geleng kepala, kreatifitas zakat yang telah terpola direngut. Atas nama agama pula, buah-buah kebajikan dicabuti.

Dengan RUU Zakat, ada yang terbahak, ada pula yang masghul. Sedikit yang mau tahu, namun banyak sekali yang tak peduli. Yang diam dianggap ‘sopan’. Yang aktif mengadvokasi dianggap sakit hati. Sambil mengamati ketidakpastian, harapan tinggal di DPR. Cermatkah DPR deteksi klausul tak produktif. Jika tidak, LAZ jelas tanggalkan ‘baju zakat’ untuk beralih ke LSM. Sebab Depsos yang ‘sekuler’ terbukti malah lebih bijak. Tak terbersit jadikan LSM dan NGO sebagai UPS (Unit Pegiat Sosial). Sementara muzaki yang masih ingin salurkan zakat, tetap bisa dilayani oleh LSM dengan nafas baru ini.erie sudewo

Read More......